Sinopsis atau synopsis berasal dari kata synopical yang artinya ringkas. Berdasarkan asal kata tersebut, sinopsis diartikan: ringkasan suatu materi tulisan yang panjang (baik fiksi maupun non-fiksi) dan sinopsis itu sendiri ditulis dalam bentuk narasi. Sinopsis terdiri dari dua versi, yaitu (1) sinopsis yang ditulis untuk meringkas karya yang sudah ada atau sudah ditulis secara lengkap dan (2) sinopsis yang yang ditulis untuk persiapan menulis suatu gagasan yang akan dituangkan dalam bentuk fiksi maupun non-fiksi.
Tulisan berikut ini akan membahas secara singkat stategi menulis synopsis dua versi untuk materi yang berbentuk fiksi yang telah menjadi suatu karya maupun yang masih berupa ide atau gagasan.
Salah Kaprah
Ada pihak yang beranggapan bahwa sinopsis itu hanya meringkas karya yang sudah ada atau buku yang yang sudah terbit. Padahal ada versi lainnya, yaitu ringkasan sebuah ide atau gagasan untuk direalisasi menjadi sebuah karya yang utuh. Siapa pun yang ingin menjadi penulis maupun pengarang buku dan menjual karyanya ke penerbit, harus punya kemampuan menulis sinopsis. Demikian pula bagi penulis skenario yang ingin menjual karyanya ke produser. Karena sinopsis merupakan sellingpoint (nilai jual) suatu karya untuk dipertimbangkan oleh pihak-pihak yang akan membelinya (naskah buku dibeli oleh penerbit, skenario dibeli oleh produser film). Biasanya, pihak penerbit akan menggunakan sinopsis sebagai blurd on the backcover. Blurd adalah pujian atau uraian singkat isi buku sebagai iklan, agar diminati pembaca. Bagi produser film, blurd akan dikutip untuk diterbitkan dalam bentuk poster yang disertai ilustrasi bagian adegan film yang paling menarik dijadikan iklan agar film tersebut dibanjiri penonton.
Di luar negeri, khususnya di AS, Eropa dan Australia, menawarkan sinopsis merupakan hal yang lazim bagi para penulis.Penawaran tersebut ditujukan kepada para agen (syndicate) naskah yang nantinya akan menjual karya para penulis kepada penerbit. Di Indonesia setahu saya, belum ada agen professional meskipun ada suatu lembaga yang menamakan usahanya sebagai ‘bank naskah’. Itulah sebabnya, para penulis maupun pengarang Indonesia menjual karya mereka langsung ke penerbit tanpa melalui syndicate.
Sebaliknya, bila Anda menulis sinopsis bacaan (buku) yang telah terbit, juga harus mengandung selling-point, agar banyak dibaca orang. Karena sinopsis tidak sekadar ringkasan, melainkan juga penjelasan yang informatif.
Dasar-Dasar Menulis Sinopsis
Berikut ini strategi menulis sinopsis sebuah karya dan menulis sinopsis sebuah ide atau gagasan:
Menulis Sinopsis Sebuah Karya
1. Membaca dengan seksama karya yang akan dibuat sinopsis
2. Ambil intisari (extract/substance) karya yang dibaca untuk dijadikan inti ringkasan
3. Tulis dengan bahasa yang mengalir (khas Anda) seperti sedang mendongeng
4. Menulis sinopsis adalah melakukan retold (menceritakan kembali)
5. Sinopsis sebuah buku idealnya antara 500 – 1.000 kata roman, komidi, criminal, horror dsb (Jangan
Bertele-tele)
6. Perlu ilustrasi (cover buku)
7. Dipublikasi di media-massa / untuk umum
8. Tidak mencantumkan biodata penulis
9. Sinopsis bukan resensi
Menulis Sinopsi Ide/Gagasan
1. Menulis plot-plot ide/gagasan yang akan ditulis sebagai selling-point
2. Tegaskan, target – sasaran ide
3. Tulis dengan gaya tulisan Promosi yang bersifat merayu agar pihak penerbit /produser tertarik
membelinya untuk diterbitkan/ diproduksi
4. Tonjolkan dengan jelas, apa yang akan dijual: cinta, parodi, satire, roman, komidi, criminal, horror dsb
5. Panjang sinopsis 750 – 1.500 kata
6. Tulisan dibuka dengan trigger – sebagai daya tarik
7. Mencantumakan biodata penulis/pengarang sebagai selling point
8. Sinopsis ini sebagai cikal bakal karya yang akan ditulis/dikembangkan
Bukan Hasil Browsing
Bila Anda akan menulis sinopsis sebuah karya, tidak mungkin akan terwujud dengan baik apabila hanya mengandalkan sistem browsing pada waktu membaca karya tersebut. Yang benar adalah: (1) Membaca materi dengan seksama dan penuh konsentrasi; (2)Menyediakan waktu khusus untuk membaca; (3) Membaca dalam kondisi rileks – tanpa tekanan; (4) Pahami materi; (5) Pikirkan sinopsis yang akan ditulis siapa pembacanya? dan ; (6) Tulis sinopsis dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh pembaca.
Sinopsis untuk ‘menjual’ ide atau gagasan, juga memerlukan konsentrasi yang serius agar dapat menonjolkan butir-butir selling-point. Untuik itu perlu: (1) Pemetaan materi yang akan dijual: siapa sasarannya?; (2) Sinopsis yang telah ditulis perlu disertai lembar-lembar presentasi detail gagasan sebagai pendukungnya; (3) Siap menerima kritikan dan melakukan revisi (apabila d i a n g g a p p e r l u o l e h penerbit/produser) bahkan mungkin merombak (re-writing); (4) Mempertimbangkan segi ekonomi (full-commercial atau flexible?) dan (5) Siap berbicara untuk mempresentasikan sinopsis.*
STRATEGI MENULIS BUKU
“…saya dengar ada yang mengeluh, menulis itu pekerjaan berat. Tetapi menulis adalah kesenangan terbesar dalam hidup saya dan itu hanya kematian yang dapat mengakhirimnya.”
(Ernest Hemingway)
Pengantar
Menulis buku yang ideal adalah bila hal itu dilakukan karena murni dorongan kata hati. Maksudnya, menulis buku bukan karena dipaksa oleh pihak-pihak tertentu di bawah ancaman atau karena terpaksa menjalankan tugas untuk menghindari suatu sanksi (tidak mendapat gelar) dan semacamnya. Bila keterpaksaan itu terjadi, maka buku yang ditulisnya dapat dipastikan kualitasnya diragukan. Baik itu kualitas cara penulisannya maupun isinya karena tidak dilandasi spirit, visi, misi dan tanggung-jawab moral.
Idealnya, buku yang baik (apa pun jenisnya fiksi maupun non fiksi) seharusnya mengandung nilai-nilai luhur, bervisi dan bermisi yang dapat dipertanggungjawabkan secara moral atau akademis sehingga bermanfaat bagi pembacanya. Manfaat itu antara lain meliputi: pengembangan wawasan, pengkayaan buah pikiran, memberi inspirasi dan motivasi hal-hal positif/untuk kemajuan, memancing opini (yang bersifat meningkatkan IQ) dan mengasah kepekaan (EI) atau paling tidak memberi hiburan yang sehat. Oleh karena itu, untuk bisa menulis buku ideal perlu berbagai pembekalan materi yang memadai(sesuai dengan tujuannya), pemikiran dan analisis yang dalam, konsentrasi khusus pada saat menulis dan tahu kemana saja arahnya buku yang ditulis tersebut disebarluaskan.
Buku, selain merupakan produk ilmiah, juga produk industri. Karena itu, buku harus dirancang agar punya pasar yang baik, mulai dari bentuk fisik, bahasa dan isinya.
Mulai Dengan Berbagai Pertanyaan Cikal bakal buku adalah kitab-kitab yang menjadi sumber ajaran agama, moral dan pengetahuan bagi manusia, antara lain Al-Qur’an, Al Kitab dan Wedha. Semuanya ditulis dengan bahasa yang sangat indah dan sarat makna, seindah dan penuh makna isi yang ada di dalamnya. Karena kita tahu, buku-buku tersebut adalah karya Yang Maha Kuasa dan MahaAgung.
Dalam perkembangannya, manusia mampu menulis buku, diperkirakan sejak tahun 3000 Sebelum Masehi. Buku yang ditulisnya antara lain berisi mantera dan semacam obat atau jamu untuk keselamatan dan kesehatan, ilmu alam/ilmu bumi untuk kenyamanan dan pertahanan hidup serta serba-serbi boga termasuk aphrodisiac (perangsang nafsu birahi) untuk kesenangan dan kenikmatan. Kemudian berkembang, penulisan buku menjadi meningkat ragamnya, sesuai dengan perkembangan zaman yaitu di bidang matematika, fisika, sejarah serta sastra (sastra yang semula dilisankan kemudian ditulis). Yang jelas, semuanya itu dianggap sebagai sumber berbagai ilmu pengetahuan karena penulisnya memang bervisi dan bermisi demikian. Maka muncullah pepatah, buku gudangnya ilmu, buku jendela dunia.
Berdasarkan fakta tersebut di atas, maka siapa pun yang akan menulis buku, sebaiknya bertindak arif. Yaitu, sebelum menulis buku mulailah dengan pertanyaan dan jawab lah pertanyaaan yang ada dengan jujur. Maka jawaban-jawaban tersebut akan menentukan buku yang akan kita tulis.
Pertanyaan-pertanyaan yang dimaksud antara lain:
1.Mengapa kita menulis buku?
2.Untuk siapa (pembaca) buku yang akan kita tulis?
3.Jenis buku apa yang akan kita tulis?
4.Berapa lama kita akan menulis (target waktu)?
5.Seperti apa perwajahan, tata-letak dan penampilan buku?
6.Penerbit mana yang kiranya akan jadi mitra kita (mau menerbitkan karya kita)?
7.Kegiatan apa saja yang akan dilakukan untuk memasarkan dan mempromosikan buku yang akan terbit?
8.Acara peluncuran seperti apa untuk ‘merayakan’ terbitkanya buku?
Semua pertanyaan tersebut perlu dijawab dengan seksama, jujur dilandasi pertimbangan pemikiran bahwa apa yang kita inginkan (menulis) buku harus tercapai dan buku tersebut dibaca oleh pembaca yang kita targetkan. Artinya, naskah yang kita tulis diterbitkan menjadi buku, kemudian didistribusikan dengan baik disertai pemasaran dan promosi yang memadai. Paling tidak, pada saat buku terbit diadakan acara peluncuran. Sehingga buku kita bisa sampai ke sasarannya seperti apa yang kita harapkan. Karena dalam kenyataannya (berdasarkan pengamatan dan pengalaman saya), tidak semua buku yang telah diterbitkan (walau bagus) dipasarkan dan dipromosikan oleh penerbitnya. yang memadai. Bahkan tidak ada acara peluncuran, sehingga buku yang berkualitas baik pun menjadi kurang dikenal atau bahkan tidak diketahui oleh pembaca sama sekali. Ini jelas, mengakibatkan kekecewaan kita sebagai penulis.
Jalan keluarnya, untuk mengatasi timbulnya kekecewaan tersebut, penulis buku Change – Rheinald Kasali memberi tips bahwa penulis harus mampu mempromosikan karyanya melalui berbagai acara yang diciptakannya sendiri. Misalnya, berusaha meluncurkan buku (atas biaya sendiri atau bekerjasama dengan sponsor), menyelenggarakan temu pembaca, seminar, siaran di radio dan sebagainya. Dengan demikian, bukunya dapat dibaca oleh pembaca yang ditargetkan oleh si penulis. Dari berbagai kegiatan ini penulis akan mendapat kepuasan, paling tidak secara batin dan apalagi kalau mendapat uang.
Dari Percept ke Concept dan Menjadi Text
Buku apa pun yang kita tulis, yang benar adalah bermula dari idea, menjadi percept (anggapan/pendapat) lalu berkembang jadi concept diwujudkan menjadi text atau naskah. Semuanya itu dapat terwujud karena adanya media utama yaitu bahasa yang merupakan perpanjangan otak (buah pikiran) untuk menyampaikan atau mengekspresikan konsep menjadi tulisan/teks. Bahasa dalam konteks ini berfungsi sebagai alat komunikasi dan informasi, yang disebut bahasa kedua (bahasa pertama adalah bahasa lisan) – demikian pendapat Robert K. Logan, ahli bahasa dan ahli fisika dari Universitas Toronto – Kanada.
Sebagai bahasa kedua, media untuk menulis, maka bahasa yang kita pergunakan untuk menulis ada standard dan ketentuan-ketentuannya. Ini tergantung, jenis buku apa yang akan kita tulis: fiksi atau non-fiksi? Jenis tulisan fiksi bermacam-macam dari yang bernilai sastra hingga pop. Demikian juga tulisan non-fiksi, ada yang bersifat pop dan ilmiah pop maupun ilmiah murni. Jenis-jenis tulisan tersebut menggunakan media bahasa yang berbeda. Kunci utamanya, setiap penulis harus kaya akan kosa kata dan menguasai betul bahasa tersebut sehingga dalam proses menulis tidak mengalami hambatan.
Tahapan Penulisan dan Menjadi A Home Career Tahap ini merupakan proses kreatif dari seorang penulis. Kekreativannya dimulai dengan pada saat merencanakan menulis buku. Di AS maupun di Eropa pada saat ini, bila seseorang berniat menulis buku ditafsirkan akan menjalani kehidupan ‘sangat kreatif’ karena mampu:
•Bekerja di rumah
•Menjadi a home career (berkarir di rumah – biasanya orang berkarir selama ini identik dengan orang yang
selalu sibuk di luar rumah)
•Menjadi direktur dan sekaligus manager bagi dirinya sendiri
•Bagi kaum muda masih bisa melanjutkan studinjya sebagai pelajar atau mahasiswa
•Memposisikan dirinya sebagai penulis profesional
•Mendulang uang dari buah kesendirian, mau berpikir dan memperkaya pengetahuan (membaca)
•Menjual ide melalui Strategic Thinking untuk menghadapi persaingan
Bukan bermakssud menyombongkan diri, saya telah menjalani hidup sebagai a home career sejak tahun 80-an, dengan menggantungkan matapencaharian dari menulis.
Apakah Anda juga mau memposisikan diri sebagai a home career dengan menulis buku? Bila jawabannya ‘yes’ atau masih ‘do not know’ – keduanya perlu mempersiapkan diri untuk menulis buku sebaik mungkin.
Berikut ini langkah-langkah persiapan untuk menulis buku:
1.Perencanaan
2.Persiapan materi
3.Proses penulisan
4.Editing (Penyuntingan): isi dan bahasa
5.Koreksi
Penjarannya:
menentukan jenis tulisan: Fiksi atau Non-fiksi
•Perencanaan Fiksi bersumber dari imajinasi, pengamalaman hidup,
•Persiapan materi pengalaman orang lain yang memberi inspirasi, bacaan dan sebagainya. Non-fiksi materinya bersumber dari fakta (penelitian lapangan atau literatur, laporan ilmiah, peristiwa, eksperimen dan sebagainya)•Proses menulis: sesuai dengan perencanaan
-Penulisan Judul (Kepala Tulisan/Karangan) semula. Judul penting, sebagai pedoman isi tulisan (kecuali fiksi, judul bisa diganti-ganti) untuk buku ilmiah (non-fiksi)-Penulisan Isi (Tubuh Tulisan/Karangan) diperlukan kelengkapan selain Daftar Isi juga: Sambutan, Kata Pengantar, Daftar Pustaka, Daftar Indeks, Catatan Kaki, Kolofon dan sebagainya (akan diberi contohnya) Daftar Isi, Catatan Kaki (bila perlu)-Untuk buku fiksi
•Editing
editing ini sangat penting untuk mencapai kualitas-Isi tulisan tulisan fiksi maupun non-fiksi editing ini sangat penting sebab menentukan kualitas-Editing bahasa isi buku yaitu bahasa harus komunikatif, etis dan enak dibaca. Bahasa sebagai media untuk menulis buku juga memerlukan kelengkapan tanda baca yang tepat dan akurat.
semua naskah•Koreksi yang akan diterbitkan menjadi buku memerlukan koreksi, tanpa kecuali. Kesalahan biasanya meliputi:
ini terjadi-Salah tulis sejak tulisan masih berbentuk naskah (kesalahan dilakukan oleh penulis)
ini terjadi dalam-Salah cetak proses pencetakan (Bukan kesalahan penulis)
Pendalaman Tentang Teks
Teks atau text (dalam bahasa Inggris) berasal dari kata tekto (bahasa Yunani) yang berarti weaving (bahasa Inggris) yaitu menenun atau menganyam. Maka apa pun hasil karya tulis kita, makalah atau buku adalah merupakan teks.
1.Teks (karya tulis) bisa disebut teks apabila ia bisa dipahami oleh pembaca.
2.Teks bisa disebut teks apabila ia menyampaikan arti (makna) atau isi yang mengandung nilai-nilai (ilmiah
atau sastra)
3.Teks harus disampaikan melalui bahasa. Karena itu penguasaan bahasa sangat menentukan arti teks yang
kita tulis.
Teks-teks yang dimaksud tersebut tidaklah selalu murni dari pemikiran kita melainkan bisa saja diambil (dikutip) dari teks karya penulis di luar kita. Seperti dikatakan oleh Yulia Kristeva (filsuf, ahli teori bahasa, sastra dan psikoanalisa ) bahwa suatu teks itu merupakan mosaic dari teks-teks lainnya. Jadi sebuah teks itu tidak tertutup oleh system dan tidak berada dalam kesendirian. Maka bisa diragukan kebenarannya jika ada penulis yang mengatakan, “Tulisan saya asli pemikiran saya ….!” Padahal yang benar, ia terpengaruh oleh teks-teks yang pernah dibacanya. Pengaruh ini bukan berarti menjiplak atau meniru.
Berikut ini pengerian teks hubungannya dengan teks-teks lainnya:
1.Intertekstualitas adalah hubungan satu teks dengan teks lain.
2.Apa pun teks yang kita hasilkan, pastilah punya hubungan atau bersinggungan dengan teks karya orang
lain (terdahulu).
3.Pada dasarnya selalu berlaku pepatah lama: Tak ada yang baru di bawah sinar matahari (nothing new
under the sunshine)
4.Berkaitan dengan Butir 3, itu berarti bahwa teks yang Anda tulis selalu tidak lepas dari pemikiran orang
lain.
5.Dalam penulisan ilmiah (academic writing), merujuk pendapat orang lain, memerlukan etika, dengan
menyebut sumbernya.
6.Keterpengaruhan adalah salah satu bentuk intertekstualitas.
7.Contoh-contoh:
-Teks-teks karya ilmiah tentang filsafat:
Postmodernisme berkaitan dengan modernisme. -Psikologi Teks Lacan (Jacques) berkaitan dengan teks Psikoanalisis Sigmund Frued.
-Ekonomi Marxian berhubungan dengan karya Thomas Malthus, David Ricardo, Adam Smith dan sebagainya.
Karya Kenzaburo terkait dengan karya-karya-Fiksi J.P. Sartre
Daftar Pustaka
Buku
Logan, Robert K, 1995. The Fifth Language. Toronto: Stoddart
Macey, David, 2001. The Penguin Dictionary of Critical Theory. England: Penguin Books
Mintzbergm, Henry, 1994. Rise and Fall of Strategic Planning. England: Free Press
Thompson, John.B, 2005. Filsafat Bahasa dan Hermeneutik (Penerjemah Dr. Abdullah Khozin Afandi). Surabaya: Visi Humanika.
Website
www.jjhome.com: How to Write A Book For Profit?
www.qm2management.com: Strategic Thinking
Sekilas: PENULISAN SKENARIO FILM
Ada beberapa surat masuk ke e-mail saya menanyakan tentang penulisan skenario film. Berikut ini rangkuman pertanyaan mereka dan jawaban saya.
Apakah penulisan skenario film termasuk bagian dari creative writing?
Benar. Juga, naskah drama radio, naskah drama dan teks iklan.
Apakah setiap orang bisa menulis skenario atau hanya mereka yang berbakat saja?
Menurut saya, siapa pun bisa menulis skenario asalkan ia mau latihan menulis skenario melalui kursus atau belajar sendiri. Bagi Anda yang mau belajar sendiri antara lain dengan cara membaca beberapa skenario yang telah difilmkan. Baik film Indonesia maupun film-film asing – misalnya garapan Hollywood. Skenario film Indonesia banyak dijual di berbagai toko buku. Misalnya, skenario film Ada Apa Dengan Cinta? Untuk skenario film-film Hollywood tentu saja ditulis dalam bahasa Inggris, bisa dibeli di toko-toko buku yang menjual buku-buku bahasa Inggris. Cari saja di rak Arts/Film.
Berapa lamanya seseorang harus belajar menulis skenario film dari nol (belum tahu apa-apa) hingga bisa menulis skenario bagus? Masing-masing orang berbeda. Ada yang cepat, ada yang lambat. Bagi yang serius ingin bisa menulis skenario film biasanya belajar dengan sungguh-sungguh. Selain melatih diri menulis, juga rajin membaca skenario film-film bermutu (yang diakui kritikus). Saya telah mempelajari puluhan skenario film dan yang sangat berkesan dalam benak saya adalah Suci Sang Primadona karya Arifin C. Noor dan Dance With The Wolves karya Kevin Costner.
Apa dasar-dasar untuk menulis skenario film?
Pertama-tama harus memahami isi cerita dan tokoh-tokoh )para pelakunya) yang akan ditulis dalam bentuk skenario. Langkah selanjutnya harus tahu teknik penulisan film lengkap dengan idiom-idiomnya (the lingo of the film) yang harus dicantumkan pada saat menulis skenario. Misalnya contoh-contoh berikut ini (silakan buka kamus untuk memahaminya!):
- ESTABLISHING SHOT: wide-angle shot
- TIGHT ON: close-up shot
- ANOTHER ANGLE: a new viewpoint
- CLOSER ANGLE: closer perspective
- CLOSE UP: tight shot
- CLOSE SHOT: tight shot
- POV: point of view
- RESERVE ANGLE: opposite of point of view, other person’s view
- BACK TO: return to POV shot
- FAVOR (CHARACTER’S NAME): focus on that character
- CUT TO: end of a scene
- DISSOLVE: old scene fading out and new scene fading in
- FADE IN: image fades to new sceneM
- FADE OUT: image fades to black
- INSERT: text or picture inserted into a scene
- PAN: camera moves from side to sise
- HIGH ANGLE: camera shots from above
- LOW ANGLE: shots from under subject/character
- VOICE OVER (V.O): spoken narration
- OFFSCREEN (O.S): character speaks offscreen
- INDOOR/INTERIOR (INT): in the room/space
- OUTDOOR/EXTERIROR (EXT): outside the room
- MORE: the next page…
Semuanya itu harus dipahami. Untuk lebih jelasnya, baca beberapa skenario yang telah difilmkan dan pelajari pula filmnya. Dengan demikian, waktu menonton film yang sedang Anda pelajari, Anda bukanlah sebagai penonton melainkan sebagai pengamat. Lakukan hal itu dengan sungguh-sungguh.
Saya suka sekali melakukan hal itu pada suatu film yang memikat hati saya. Satu judul film bila saya tonton seharian. Bahkan ada yang berhari-hari, karena saya mengamati berbagai elementnya: setting, karakter, lighting, angle, dialog hingga ke property dan kostumnya. Teman saya pernah komentar, apa yang saya lakukan itu melelahkan baginya. Mungkin apa yang dikatakan teman saya benar. Karena, untuk mengamati sebuah film perlu konsentrasi dan perhatian sungguh-sungguh. Apakah untuk menulis skenario film sebaiknya belajar formal – misalnya sekolah perfilman? Misalnya sekolah di mana?
Sebaiknya demikian, menempuh pendidikan formal. Misalnya, Anda studi di IKJ – Jurusan Film. Alamat IKJ di Komplek Taman Ismail Marzuki – Jl. Cikini Raya No.73 Jakarta Pusat. Atau ambil kursus singkat di TVRI Pusat Jakarta.
Apakah Mbak Naning Pranoto belajar formal untuk menulis skenario?
Pada mulanya saya hanya otodidak, belajar dari buku dan skenario yang ditulis oleh para sineas yang karya-karya berkualitas. Saya belajar menulis skenario secara formal justru setelah saya tidak aktif di film lagi. Yaitu, pada saat saya belajar creative writing di sebuah universitas di Australia akhir tahun 90-an, padahal saya aktif di film tahun 80-an. Tapi sekarang saya ingin terjun kembali ke film, untuk memproduksi film-film pendidikan.
Apakah skenario film sama dengan skenario sinetron?
Saya mengamati beberapa skenario sinetron dan saya menyimpulkan bahwa skenario film dengan sinetron tidak sama. Skenario film ditulis lebih rinci dan detail. Sedangkan skenario sinetron tidak demikian, apalagi yang diproduksi dengan ritme ‘kejar tayang’.
Bagaimana memulai memulai menulis skenario?
Mulai saja dengan membuat outline-nya dengan patokan:
1. Lukiskan setttingnya (lokasi untuk pengambilan gambar)
2. Lukiskan tokoh si antagonis yang lazim disebut hero-nya
3. Lukiskan tokoh si protagonis yang lazim disebut ‘biang-kerok’nya
4. Ringkas plot cerita dalam beberapa kalimat atau paling banyak 25 kata
5. Kemukakan masalah yang dihadapi antagonis karena ulah protagonist
6. Bagaimana perjuangan si antagonis untuk melawan protagonis atau berbagai kesulitannya?
7. Apa yang menjadi klimaks cerita?
8. Bagaimana akhir ceritanya?
9. Nilai-nilai apa saja yang kiranya dapat diambil atau dinikmati oleh penonton?
Bagaimana cara menjual skenario film?
Bila Anda punya skenario film bisa ditawarkan ke berbagai perusahaan film atau production house yang mau menerima skenario dari orang luar. Karena, sekarang ini pada umumnya mereka punya penulis ‘orang dalam’. Pengalaman saya, ketika aktif di film, belum pernah menawarkan skenario film yang saya tulis. Karena saya menulis berdasarkan pesanan. Tapi, bagi Anda yang memulai menulis skenario, bukan berarti sulit memasarkannya. Coba hubungi saja beberapa perusahaan film yang ada di Jakarta, misalnya Rapi Film, INDIKA, MD Film, SINEMART, itu yang saya tahu.
Apakah Mbak Naning Pranoto mau memberi contoh penulisan skenario film?
Ya, Berikut ini contoh satu scene – skenario film yang saya adaptasi dari sebuah skenario film pendek yang pernah saya baca.
Judul: KAWIN SIRI
FADE IN
1. INT. AIRPORT BAR – MALAM HARI
ANITA dan YULIA, dua perempuan menawan, usia dua puluhan, mereka ini duduk di sebuah bar di sebuah Airport. BRAM, seorang lelaki tampan, usia tiga puluhan, berjalan, masuk ke dalam bar lalu mengambil tempat duduk yang tidak jauh dari ANITA dan YULIA. Ruang bar saat itu cukup lengang, diterangi lampu remang-remang. Musik lembut mengalun memenuhi ruangan bar.
2. ANGLE ON ANITA AND YULIA
ANITA: Yul, lihat lelaki itu …hem (TERPESONA).
YULIA : Lelaki yang mana? (PENASARAN)
ANITA : Itu tuh..yang baru duduk (MENUNJUK DENGAN EKOR MATANYA)
YULIA : Oh…dia (KALEM). Sepertinya aku kenal.
ANITA : (PENASARAN) Kenal di mana?
YULIA : (SENYUM DIKULUM) Dia bekas suamiku!
ANITA : (TERKEJUT, MEMBELALAK) Ha? Yang beneerrrr?
YULIA : (TETAP SENYUM DIKULUM, TENANG) Kami pernah kawin siri.
ANITA : Wowww..(MENUTUP MULUTYA YANG MENGANGA!)
CUT TO… *
Naning Pranoto: Menulis Saja Seperti Bernafas
Sumber: www.pembelajar.com
Jika bicara topik creative writing, maka jangan ragu lagi, Naning Pranoto-lah pakarnya. Dialah satu di antara sedikit penulis yang benar-benar menekuni dunia creative writing, sekaligus secara formal belajar mengenai bidang tersebut di University of Western, Sydney, Australia. Mantan wartawan majalah Mutiara dan Kartini, serta mantan Pemimpin Redaksi majalah Jakarta-Jakarta ini sungguh-sungguh all out di bidang penulisan. Tak kurang dari 15 novel yang telah dia garap dengan judul-judul yang memukau, di antaranya: Mumi Beraroma Minyak Wangi, Miss Liu, Musim Semi Lupa Singgah di Shizi, Bella Donna Nova, Azalea Jingga, Angin Sorrento, Perempuan dari Selatan, Dialog Antar Dua Topeng, dan Wajah Sebuah Vagina. Bukan hanya bergerak di buku-buku fiksi, Naning Pranoto juga telah menulis buku nonfiksi berjudul Creative Writing – 72 Jurus Seni Mengarang (PM Pustaka, 2004) dan belasan buku panduan lainnya.
Naning yang kelahiran 6 Desember 1957 di Yogyakarta ini juga tercatat sebagai salah satu pakar penulisan yang aktif membagikan ilmunya melalui berbagai workshop penulisan kreatif. Pelatihan-pelatihan menulis yang diadakannya terbukti diminati khalayak, terutama untuk teknik penulisan kreatif. Tampaknya, Naning menjadi satu di antara sekian banyak penulis yang sangat bergairah untuk melahirkan penulis-penulis baru, baik melalui ceramah-ceramah, pelatihan-pelatihan, termasuk mengadakan sejumlah lomba penulisan.
Yang juga cukup khas dari seorang Naning adalah pada kemampuannya untuk terus menulis dalam dua ranah penulisan; fiksi maupun nonfiksi. Tampaknya, latar belakangnya sebagai jurnalis serta kekayaan imajinasinya memungkinkan hal tersebut. Suatu kemampuan mengawinkan dua dunia penulisan yang mungkin saja tidak dimiliki oleh banyak penulis umumnya. Nah, untuk mengetahui proses kreatif yang luar biasa tersebut, berikut wawancara Edy Zaqeus dari Pembelajar.com dengan pendiri situs Rayakultura.net ini:
Anda dikenal sebagai salah satu penulis yang sering mengadakan pelatihan menulis. Apa tujuan dan motivasi aktivitas tersebut?
Pelatihan Penulisan Kreatif atau Creative Writing Workshop (CWW) yang sering saya lakukan tujuannya yang utama mengajak siapa saja gemar menulis. Karena selama ini banyak yang menyakini hanya mereka yang berbakat menulis-lah yang bisa menulis atau mengarang. Padahal tidak demikian. Siapa saja bisa menulis asalkan ia mau dan disiplin menulis, serta tahu apa yang mau ditulisnya. Memang, untuk menjadi penulis yang berkualitas harus banyak membaca. Tetapi bagi pemula, cukup menulis dari pengalaman-pengalamannya atau impian-impiannya dan sebagainya. Menulis itu banyak manfaatnya, selain untuk mengekspresikan butir-butir pemikiran, ide-ide atau gagasan untuk menjadi inspirasi pembacanya, juga sebagai terapi jiwa—semacam pelepasan dan pencerahan—paling tidak itu, yang saya rasakan.
Seberapa besar minat masyarakat terhadap kegiatan semacam itu?
Menurut pengamatan dan pengalaman saya, animo masyarakat untuk menulis cukup baik, bahkan mengejutkan. Buktinya, setiap kali saya diundang untuk jadi tutor CWW pesertanya mbludak, bahkan sering sampai menolak. Pesertanya tidak hanya kaum muda saja tapi manula. Juga anak-anak. Saya membuka les privat menulis pesertanya selalu ada. Mereka datang ke rumah saya dan saya senang sekali, karena punya teman untuk sharing dan menjadi sumber inspirasi dan energi untuk terus berada di track yang sudah saya jalani di bidang penulisan.
Biasanya, apakah pesertanya kemudian tergerak untuk berkarya?
Setahu saya, mereka yang telah mengikuti CWW pada umumnya menulis. Bahkan tidak sedikit yang menulis naskah untuk diterbitkan menjadi buku. Tapi ada juga yang sekadar ikut, terus tidak menulis dengan alasan tidak punya waktu atau tidak in the good mood. Menurut saya, kalau memang mau menulis seharusnya tidak usah menunggu in the good mood, menulis saja seperti bernafas. Soal waktu memang kadang sulit bagi yang sibuk. Akhir-akhir ini saya juga merasa kekurangan waktu untuk menulis karena banyak kegiatan sosial.
Ok, Anda termasuk penulis yang juga suka menggunakan judul kontroversial, seperti novel “Wajah Sebuah Vagina”. Seberapa besar kontribusi judul kontroversial bagi penjualan buku?
Judul kontroversial tidak selalu mendongkrak oplag penjualan buku. Sekarang ini, buku bisa jadi laris karena tidak mutlak tergantung pada judul atau isi yang menarik. Melainkan, bagaimana buku tersebut ditangani secara baik marketingnya, promosinya, dan adanya peran media tertentu ysng memberitakan. Misalnya, menulis resensi, wawancara penulisnya, dll. Pasar sekarang ini bisa ramai melariskan suatu produk kalau didukung promosi. Penerbit di Indonesia belum mau mengeluarkan dana untuk promosi, bahkan untuk meluncurkan atau launching saja tidak mau. Jadi, penulisnya mesti ikut aktif, kalau perlu membiayai peluncurannya.
Belakangan, Anda juga merambah nonfiksi untuk buku-buku how to remaja. Apa motivasi membidik segmen tersebut?
Saya menulis buku how to karena ingin memberi semacam ‘menu suplemen’ buat remaja yang akhir-akhir ini banyak mengkonsumsi bacaan semacam junkfood. Mereka perlu vitamin – ya berbagai pengetahuan tentang dunia remaja sebagai bekal memasuki gerbang dewasa. Sebab kalau hanya macam junkfood terus, mau jadi apa mereka? Tapi para pengelola toko buku saya lihat, lebih senang menghidangkan junkfood daripada buku-buku yang saya tulis. Saya tahu, buku-buku jenis junkfood di mana-mana diminati. Tapi, apa akibatnya kelak untuk kesehatan konsumennya?
Segmen itu menjanjikan?
Sebetulnya buku-buku untuk remaja pasarnya cukup subur. Untuk buku saya, hasil penjualannya biasa-biasa saja karena tidak didukung promosi. Tapi, kalau buku itu saya jual sendiri di seminar-seminar yang digelar oleh yayasan saya, atau saya diundang oleh pihak lain, cukup laris. Mungkin, saya harus menjual sendiri buku-buku saya ha…ha…ha… Penulis merangkap pedagang! Saya pikir bagus, lalu apa pekerjaan penerbit?
Bergerak pada tulisan fiksi dan nonfiksi bukan hal mudah. Kiat Anda?
Saya sebetulnya tidak pernah berpikir apakah saya pengarang yang menulis fiksi atau penulis yang menulis nonfiksi. Karena prinsip saya menulis! Menulis apa saja, seperti halnya saya suka membaca buku apa saja sejak saya masih usia dini. Sumber bacaan saya sangat variasi, apalagi selama saya tinggal di luar negeri, saya memanfaatkan waktu hanya untuk membaca dan belajar. Apa yang saya baca menjadi sumber tulisan saya.
Apa yang membuat Anda begitu produktif menulis?
Faktor yang berpengaruh pada produktivitas saya adalah karena saya memang selalu terdorong untuk menulis, the strong will to do writing!. Selain itu, saya ini tipe manusia yang tidak bisa tidur lebih dari lima jam. Maka saya suka menulis, membaca, atau mendengarkan musik.
Dari mana ide-ide Anda datang?
Ide-ide novel saya semuanya bersumber dari perjalanan hidup saya ketika bertemu dengan berbagai manusia dari berbagai bangsa. Misalnya, waktu saya tinggal di Sao Paulo dan di Rio de Janiero, Brazil, saya terinspirasi menulis dua novel yaitu Bella Dona Nova Bukan Telenovela dan beberapa cerpen yang isinya mengenai manusia, sosial, kebudayaan dan gaya hidup orang-orang Amerika Latin. Begitu juga waktu saya tinggal di Filipina, Belanda—apalagi di Australia—maka novel-novel saya selalu ber-setting luar negeri. Ada beberapa pihak yang menyindir saya ‘kebarat-baratan’– saya pikir, itu tidak benar. Saya hanya menulis apa yang saya tahu, saya lihat dan saya pahami….
Pengarang mana saja yang mempengaruhi atau menginspirasi tulisan-tulisan Anda?
Saya terpengaruh oleh karya-karya penulis pemenang nobel sastra, antara lain Garcia Marquez, Toni Morrison, Gunter Grass, Hemingway, Fulker – juga pengarang Timur Tengah seperti Nawal El Sadawi yang feminis. Puisi-puisi Jalalludin Rumi sangat merangsang saya untuk menulis bergaya puitis dan filosofis. Masih banyak lagi pengarang yang karyanya saya sukai.
Soal dikotomi penulis idealis versus penulis pasar?Saya tidak terlalu memaknakan dikotomi tersebut. Tapi saya kagum kepada para penulis kaliber dunia yang punya semboyan: saya menulis untuk diri saya ha…ha…ha… Tapi nyatanya justru mereka ini menulis untuk siapa saja dan karyanya diterima, punya nilai yang luar biasa.
Kalau disuruh pilih, Anda di posisi mana? Saya di posisi mana saja, tidak peduli. Hanya saya tidak mampu menjadi penulis yang mengikuti pasar.
Definisi penulis sukses?
Penulis yang sukses? Dinilai dari segi mana dan apa?
Di Indonesia pada umumnya sukses diartikan dengan ‘kemampuan meraup uang’. Bahkan segala hal yang laris, laku di pasar lalu dicap bagus. Jadi, kalau menurut saya, penulis yang sukses adalah penulis yang menulis berdasarkan misinya, punya misi tertentu, untuk kepentingan orang banyak – dan walau tidak dianggap oleh masyarakatnya ia tetap konsisten pada misinya.
Lagi menggarap karya apa lagi nih?
Saya sekarang sedang menggarap beberapa buku fiksi dan nonfiksi, khususnya Creative Writing untuk Tingkat Lanjut. Juga beberapa text-book. Sayangnya, saya sedang terikat pekerjaan yang membuat saya kekurangan waktu untuk menulis. Wah, kepala rasanya mau pecah, karena banyak yang ingin ditulis tapi waktunya tidak ada… Yang sedikit menyenangkan, baru saja kami meluncurkan buku yang ditulis oleh anak-anak SD yang pernah memenangkan lomba menulis kreatif yang kami selenggarakan. Judul bukunya: 10 Dunia, Refleksi dan Ekspresi Anak-anak Indonesia.
Kabarnya lagi mengadakan lomba penulisan lagi?
Ya, yayasan kami, Garda Budaya didukung PT Rohto Laboratories Indonesia sedang menyelenggarakan Lomba Menulis Cerita Pendek bertema remaja, berhadiah total Rp 50 juta.
wagh … topik menarik ! makasih ya atas infonya …