
Kebersamaan adalah hal yang termanis dimana saja di dunia ini, namun sekarang sudah sangat sulit sekali ditemukan. Karena kebersamaan yang disertai dengan persahabatan murni hampir hilang, yang ada sebuah bentuk pertemanan yang seringkali ditunggangi oleh kepentingan pribadi atau kelompok dengan berbagai alasan. Adanya kepentingan seperti kepentingan politik, ekonomi, kekuasaan, ketenaran, keamanan dan sebagainya menyebabkan persahabatan menjadi aneh.
Seorang pelukis pengelana dari Sydney, Australia, Melita Ohram (26), mempunyai gagasan untuk mengadakan sebuah proyek kecil ‘Diving With Color’ dengan menggabungkan anak-anak korban lumpur Lapindo dengan siswa akselerasi SMPN 1 Sidoarjo. Meskipun latar belakang mereka, yang satu tak terfasilitasi dan yang satunya lagi penuh dengan fasilitas, kondisi yang berbeda namun dapat bertemu dalam kegiatan ini. Banyak anak-anak korban lumpur lapindo yang mengalami penderitaan secara psikologis, sehingga memerlukan perhatian yang serius. Beberapa diantaranya ada yang cukup parah sehingga setiap hari selalu berteriak-teriak ketakutan dengan meneriakkan ‘lumpur ada lumpur, lumpur dating, ayah ibu lumpur datang’ dan masih banyak bentuk penderitaan psikologis yang lain. Kondisi seperti ini tidak pernah terpikirkan oleh pemerintah apalagi para petinggi Lapindo. Beberapa orang tua korban lumpur Lapindo yang diwawancarai Investigasi membenarkan adanya kondisi seperti ini.

Kedatangan Melita sedikit membawa angin segar bagi anak-anak korban lumpur Lapindo, mereka diajak bersenang-senang dengan menyelami berbagai persoalan lingkungan secara sederhana dengan melukis diorama bawah laut dengan biotanya. Mereka mendisain, menggaris, menggunting, melipat, merekat kemudian mewarnai bersama. Disini tampak keceriaan anak-anak korban lumpur Lapindo yang melakukan kegiatan ini secara bersama-sama. Kenapa gagasan harus dicetuskan oleh seorang Melita yang jauh-jauh datang dari Australia untuk berempati dengan anak-anak korban lumpur Lapindo.

Kirana Kejora, penulis lepas, mengatakan,”Kegiatan ini dilakukan dengan swadaya dan swadana oleh Melita dan dibantu oleh beberapa kawan-kawan seniman Indonesia yaitu Cak Ugeng pelukis sembur dari Pasar Seni Sidoarjo, Gembel HST, seniman Surabaya, Dar Ganden perupa dari Tanggungangin yang tinggal dekat tanggul dan siswa akselerasi dan SBI SMP 1 Sidoarjo”.
Kegiatan ini hanya sebuah kerja kecil, namun mempunyai dampak psikologis yang besar dimana anak-anak Porong merasa masih ada yang memperhatikan dan peduli meski hanya melukis bersama. Diving with Color mempunyai makna menyelami kehidupan bersama meskipun dengan latar belakang yang berbeda, mereka tidak hanya sekedar mewarna bersama tapi mengenali warna kehidupan masing-masing. Dengan kegiatan ini anak-anak korban lumpur Lapindo tampaknya cukup begitu senang, minimal kegiatan ini dapat menyembuhkan trauma psikologis mereka meskipun hanya sedikit, ungkapnya. (ariefnuryadin)
TERAPI PSIKOLOGIS “Diving with Color”
February 5, 2010 by nuryadin007